Langkahku

Rabu, 01 Agustus 2012

kurikulum


Defenisi kurikulum menurut 3 ahli
Saylor, Alexander, dan Lewis (1974), menganggap bahwa kurikulum adalah sebagai upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun diluar sekolah. (Toto Ruhimat, hal.02).
Ali M  (1984), kurikulum sebagai rencana belajar peserta didik, kurikulum sebagai rencana pembelajaran, dan kurikulum sebagai pengalaman belajar yang diperoleh pesertadidik.(Munir, hal.08).
Nana Syaodih Sukmadinata (2005), pengertian kurikulum ditinjau dari tiga dimensi yaitu sebagai ilmu, sebagai sistem dan sebagai rencana. (Toto Ruhimat,hal.02)

Organisasi kurikulum dan contohnya
Organisasi Kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid-murid. Organisasi kurikulum sangat erat berhubungan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai karena pola-pola yang berbeda akan mengakibatkan isi dan cara penyampaian pelajaran berbeda pula ( Prof. Nasution, hal. 80).
 Contonya: Dalam pendidikan seni tari di sekolah umum (TK, SD, SMP, SMA) dengan potensi yang dimiliki siswa berbeda-beda ada yang menyenangi pelajaran seni tari, seni rupa atau seni musik. Tidak semua siswa meminati pelajaran seni tari, ketika guru mengajarkan seni tari guru harus mampu menyusun bahan pelajaran misalkan dengan cara mengkolaborasikan seni musik ataupun seni rupa yang tujuannya mengarah pada pelajaran seni tari.

Tujuan evaluasi kurikulum, evaluasi kurikulum dilaksanakan dalam lingkup makro dan mikro.
Tujuan evaluasi adalah sebagai berikut:
  Menyediakan informasi mengenai pelaksanaan pengembangan dan pelaksanaan suatu kurikulum sebagai masukan bagi penngambilan keputusan.
  Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum beserta faktor-faktor yang berkontribusi dalam suatu lingkungan tertentu.
  Mengembangkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dapat digunakan dalam upaya perbaikan kurikulum.
  Memahami dan menjelaskan karakteristik suatu kurikulum dan pelaksanaan suatu kurikulum.
Pelaksanaan evaluasi mikro adalah pelaksanaan evaluasi yang dilakukan pada setiap mata pelajaran yang yang diberikan dalam kurikulum dengan lingkupnya terbatas. Contohnya: pelaksanaan evaluasi yang dilakukan pada mata pelajaran pendidikan seni tari
Pelaksanaa evaluasi makro adalah pelaksanaan evaluasi yang dilakukan pada kurikulum tersebut, bukan hanya pada satu mata pelajaran tetapi semua mata pelajaran, evalusi ini mencakup likupan yang luas.

Langkah-langkah model pengembangan kurikulum dari 2 ahli, dan implementasinya dalam pengembangan kurikulum pendidikan seni tari di sekolah.
        a)   Menurut Model Administratif
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  Pengembangan kurikulum ide dan pelaksanaannya dimulai dari pejabat tingkat atas.
  Membentuk suatu tim panitia pelaksana atau komisi untuk mengembangkan  kurikulum yang didukung oleh beberapa anggota yang terdiri dari para ahli.
  Kurikulum yang sudah selesai disusun kemudian diajukan untuk diperiksa dan diperbaiki oleh tim pengarang.
  Setelah perbaikan dan penyempurnaan, kurikulum perlu di uji coba secara nyata di beberapa sekolah yang dianggap representatif.
  Adanya kegiatan monitoring dan evaluasi untuk memperbaiki atau menyempurnakan berdasarkan pelaksanaan di lapangan.
Implementasinya pada seni tari adalah pemerintah pusat menetapkan atau menyusun kurikulum apa saja yang akan diterapkan lalu di jalankan oleh sekolah-sekolah, guru seni tari dalam hal ini hanya menjalankan apa yang telah disusun oleh pemerintah pusat.
        b)   Model Beauchamp
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  Menentukan arena atau wilayah yang akan dicakup oleh kurikulum. Penentuan kurikulum ini ditentukan oleh pemegang wewenang yang dimiliki pengambilan kebijakan dibidang kurikulum.
  Menetapkan personalia. Tahap ini menentukan siapa saja orang yang akan terlibat dalam pengemabangan kurikulum
  Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Berkenaan dengan prosedur dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta kegiatan evaluasi, juga dalam menentukan desain kurikulum secara keseluruhan.
  Implementasi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh tim pengembang.
  Evaluasi kurikulum. Data yang terkumpul digunakan untuk bahan penyempurnaan kurikulum.
Implementasinya pada seni tari adalah seni tari dalam pembelajarannya melihat ke khasan tarian dari masing-masing daerah, setelah itu adanya pemilihan isi pembelajaran tari kemudian tarian tersebut di evaalusi agar bisa diperbaiki dimana kesalah guru dalam mengajar.

Sebab-sebab yang berkaitan dengan pembaharuan kurikulum khususnya untuk pendidikan seni tari kaitkan dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
Sebab-sebab yang berkaitan dengan pembaharuan kurikulum diantaranya adalah belum berhasilnya kurikulum sebelumnya dan adanya perkembangan teknologi yang cukup pesat.
Pembaharuan kurikulum pada bidang pendidikan seni tari di sekolah harus sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum. Pendidikan seni tari hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan pendidikan seni tari pun harus fleksibel dalam perkembangan zaman yang canggih sesuai dengan prinsip umum dalam pengembangan kurikulum  yaitu prinsip relevansi dan fleksibilitas. Di samping itu juga terdapat prinsip umun yaitu kontinuitas, praktis dan efektivitas. Pendidikan seni tari harus praktis digunakan pada sekolah untuk menunjang potesi-potensi yang dimiliki siswa.
Dalam pendidikan seni tari di sekolah umum pada dasarnya adalah untuk memfasilitasi berbagai potensi yang dimiliki oleh siswa bukan untuk menjadikan siswa sebagai ahli seni tari sesuai dengan prinsip khusus yaitu prinsip yang berkenaan tentang tujuan pendidikan. guru harus memilih tarian-tarian yang sesuai dengan tingkatannya dan mempunyai nilai atau pesan yang baik kepada siswa yang akan diajarkan selain itu memilih tarian yang mempunyai nilai pendidikan, agar siswa mampu menyerap pelajaran seni tari dengan baik dan mampu menerapkan pesan yang terkandung dalam tarian-tarian tersebut hal ini sesuai dengan prinsip khusus yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan. Dalam proses pembelajaran seni tari guru dituntut  untuk membaca kondisi siswa yang beragam agar guru mengetahui apakah siswa suka dengan pendidikan seni tari atau tidak,  jika tidak semua siswa menyukai seni tari maka guru bisa mengkolaborasikan berbagai seni tapi tujuannya tetap kepada seni tari hal ini sesuai dengan prinsip khusus yang berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar.  Guru seni tari juga dalam pembelajarannya sebaiknya menggunakan alat-alat yang canggih dan media yang mudah dimengerti oleh siswa, agar siswa tidak jenuh dan lebih menyukai seni tari hal ini sesuai dengan prinsip khusus yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran. Guru seni tari pun dituntut untuk memberikan nilai kepada siswa dari proses yang telah dilakukan hal ini seesuai dengan prinsip khusus yang berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.

Landasan pengembangan kurikulum di sekolah. Contoh dalam pengembangan kurikulum pendidikan seni tari di sekolah.
        a)   Landasan filosofis
Landasan filosofis menentukan arah dan tujuan pendidikan, memberikan gambaran tentang hasil yang ingin dicapai dengan upaya yang harus dilakukan. Contonya adalah guru seni tari menentukan tarian apa yang akan diajarkan sesuai dengan tingkatan siswa dan memberikan gambaran tentang tarian yangn akan diajarkan.
        b)   Landasan psikologis
Memberikan tujuan, bahan pembelajaran, strategi, media dan sistem evaluasi pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. Contohnya: Guru harus memahami berbagai karakter siswa yang bermacam-macam.  Misalkan dalam pembelajaran seni tari guru harus membaca minat siswa kepada seni tari sehingga guru bisa menerapkan pola pengajaran yang harus di terapkan, cara bisa dengan pengkolaborasian pelajaran seni yang lain yang menuju kepada seni tari.
        c)   Landasan sosiologis dan budaya
Dalam pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan lingkungan sosial budaya setempat (kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi). Contohnya: bila seorang guru mengajar di daerah tersebut maka guru sebaiknya mengajarkan tarian dari daerah tersebut.
        d)   Perkembangan ilmu dan teknologi
Kemajuan cepat dunia dalam dunia teknologi dan informasi berpengaruh besar pada peradaban manusia. Contohnya: guru dalam mengajar harus menggunakan teknologi yang canggih sehingga murid akan berfikir bahwa seni tari tidak ketinggalan zaman.

Perbedaan karakteristik KTSP dan KBK, dan kurikulum sebelumnya kaitannya dengan pengembangan program pengajaran pendidikan seni tari di sekolah.
a)      KTSP
Karakteristik KTSP adalah sebagai berikut.
1)    Kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu.
Struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh, kriteria keberhasilan KTSP lebih banyak diukur dari sistem kelulusan yang ditentukan.
2)   Kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu.
Pembelajaran KTSP menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran melalui berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran.
3)   Kurikulum yang mengakses kepentingan daerah.
Potensi perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum ini dikembangkan oleh daerah.
4)   Kurikulum yang teknologis
Adanya standar kompetensi dan sejumlah prilaku yang terukur sebagai bahan penilaian.
Kaitannya dengan program pengajaran pendidikan seni tari adalah di dalam kurikulum ini sekolah diberikan kebebasan untuk memilih seni mana yang akan dijadikan mata pelajaran sesuai dengan kemampuan sekolah tersebut. Dalam pendidikan seni tari, siswa akan lebih kreatif karena diberi kebebasan untuk mencari bahan tentang tarian yang diajarkan. Pendidikan seni tari pun akan membuat siswa paham akan seni tari yang ada di lingkungannya, karena dalam kurikulum ini digunakan cara student center sehingga keterlibatan siswa di dalam pelajaran semakin aktif.
b)      Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memiliki karakteristik sebagai berikut.
1)    Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
2)   Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagamaan.
3)   Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
4)   Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
5)   Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Kaitannya dengan program pengajaran pendidikan seni tari adalah pengajaran seni tari dalam hal ini harus mencapai kompetensi siswa, guru seni tari dalam kurikulum ini menjadi teacher center. Guru seni tari terkadang mengajarkan siswa seperti di sanggar sehingga banyak siswa yang tidak menyukai pelajaran seni tari. Kurikulum ini memaksa siswa untuk menjadi ahli bukan untuk menemukan potensi-potensi yang beragam dari siswa. Sebenarnya kurikulum ini belun cocok jika di terapkan pada sekolah umum, lebih cocok diterapkan pada sekolah kejuruan.
c)      Karakeristik Kurikulum 1994
1)  Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan.
2) Pembelajaran di sekolah lebih berorientasi kepada materi pelajaran/isi, sehingga materi pelajaran cukup padat.
3) Memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
Kaitannya dengan pengajaran seni tari adalah pelajaran seni tari pada kurikulum 1994 disatukan dengan kesenian-kesenian lainnya. Seni yang diajarkan berdasarkan daerah tersebut. Dan kurikulum ini lebih menonjolkan kerajinan tangan dan guru tetap menjadi teacher center.

Pendidikan karakter, implementasinya dalam pembelajaran pendidikan seni tari
Pendidikan karakter adalah suatu usaha pengembangan dan mendidik karakter seseorang, yaitu kejiwaan, akhlak dan budi pekerti sehingga menjadi lebih baik. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
Implementasinya dalam pendidikan seni tari adalah guru misalnya mengajarkan tarian yang memiliki nilai moral yang baik, guru bisa mengajarkan tari topeng yang banyak mempunyai karakter jadi siswa bisa memahami banyak karakter dan menerapkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-harinya.


Referensi:
Fijrakembar. (2011). Pengembangan Kurikulum. [Online]. Tersedia: http://fijrakembar.wordpress.com/category/kurikulum-1994/. [27 Juli 2012].
Hasan, Hamid. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dan PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2006). Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Munir. (2010). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.
Rumihat, Toto. dkk. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurtekpen FIP UPI.
Sanjaya, Wina. (2010). Kurikulum dan Pembelajaran:  Teori dan Praktik Pengembangan KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana.
Suryosubroto, B. (2005). Tatalaksana Kurikulum. Jakarta: PT Rineka cipta.
Syaodih Sukmadinata, Nana. (2009). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
_________. (2012). Pengertian Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia: http://blog.codingwear.com/bacaan-99-Pengertian-Pendidikan-Karakter.html. [27 Juli 2012].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar